Selasa, 02 Maret 2010

URBAN FARMING




THL-TB PENYULUH PERTANIAN


Ilustrasi :PERAK UTARA

Pada masa sekarang ini dirasakan program Urban Farming (UF) merupakan salah satu kebutuhan. Masyarakat perkotaan yang telah terbiasa tergantung pada pasar cara konvensional, harus mulai merubah kebiasaannya.

Dibanyak Negara telah melakukannya sejak beberapa tahun lalu, melakukan penanaman bahan pangan di taman-taman kota. Apalagi setelah terjadinya krisis moneter di banyak Negara. Selain mengatasi masalah pangan juga ingin didapatkannya bahan pangan yang sehat tanpa zat beracun.

Karena mulai masalah pemenuhan kebutuhan sumber pangan yang sehat, masalah ekonomi, global warming dan sebagainya sangat terasa di masyarakat perkotaan. Dimana merupakan konsumen terbesar dan sifat konsumtif yang luar biasa. Hingga pemenuhannya sangat tergantung pada produsen dan pengecer.

Namun tidak semudah membalik telapak tangan, budaya dan kebiasaan serba instan, cepat dan konsumerisme menjadi faktor UF menjadi kurang diminati oleh masyarakat perkotaan.

Di Surabaya, gerakan urban farming yang dibangun berdasarkan ide dan inovasi warga kota, serta didukung pemerintah yang diharapkan memberikan kontribusi positif, seperti meningkatkan jumlah variasi makanan yang tersedia dan memungkinkan sayuran, buah-buahan segar diproduksi di kota.

Mengapa urban farming penting ?

Ada perubahan proporsi urban rural di Jawa, fakta menunjukkan 20 tahun yg lalu, Pulau Jawa ini 70% pedesaan 30% kota, sedangkan saat ini 60% kota dan 40% pedesaan. Percepatan pertumbuhan yang sangat luar biasa, sehingga konversi dari lahan pertanian ke non pertanian terlalu cepat. Dengan makin tumbuh dan bergesernya rural menjadi urban yang modern, tentu hal ini cukup “menganggu” bagi ketahanan pangan di masa depan.

Kesadaran akan kebutuhan udara yang bersih, kenyamanan dalam lingkungan hidup, makin membuat konsep urban farming ini diterima lebih cepat oleh warga kota.

Kesadaran akan kebutuhan udara yang bersih, kenyamanan dalam lingkungan hidup, makin membuat konsep urban farming ini diterima lebih cepat oleh warga kota. Bahkan dengan lahan yang sempit-pun kreatifitas warga kota tidak akan berkurang.

Kondisi ini didukung pula oleh program dan kebijakan pemerintah kota Surabaya, dengan cepat mengembalikan fungsi jalur hijau pada fungsi yang sebenarnya. Hingga saat ini RTH (Ruang Terbuka Hijau) di Surabaya mencapai 20%. Tentunya pembangunan taman kota, makin difungsikannya kebun bibit, adanya gerakan green and clean dan surabaya berbunga akan makin mendorong pihak swasta dan warga kota berbenah.

Apa yang bisa kita lakukan ?

Urban farming, tidak memerlukan lahan yang luas. Banyak sekali buku atau panduan di internet tentang bercocok tanam. Apabila kita menyukai berkebun, bertaman, atau memanfaatkan lahan di rumah dengan tanaman sayur, buah dan tanaman hias. Maka aktivitas yang bersifat rekreasi ini dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat. Komunitas ini akan makin banyak dan saling berbagi.

Bagi peneliti, urban farming akan meningkatkan kreatifitas statistika pada proses design of experiment

Bagi peneliti, urban farming akan meningkatkan kreatifitas statistika pada proses design of experiment. Sehingga akan muncul RW-RW dengan inovasi tanaman unggulan yang cocok, cepat dan sehat untuk ditanam dan dibudidayakan di kota. Apalagi jika banyak pihak makin berani menjadikan “kampung” sebagai “kampus”, di mana gerakan urban farming lebih terukur, terarah, didukung dengan teknologi dan gotong royong.

Sehingga, di masa mendatang urban farming akan menjadi model rekreasi, ekonomi dan kewirausahaan, penelitian, kesehatan dan kesejahteraan serta pemulihan dan perbaikan lingkungan hidup. Urban farming juga akan menciptakan keindahan dan suasana asrinya “desa” dalam lingkungan kota yang modern. Mari bersama kita mulai. harri_setya@yahoo.co.id